[HOTD] shOlawat
Hadith of the Day Juli 3rd, 2007Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
(QS. Al Ahzab, 33 : 56)
Hadist riwayat Bukhori, Dari Abdurrahman bin Abi Laila ra., ia berkata:
“Ka`b bin `Ujrah pernah bertemu denganku, lalu ia berkata: “Tidakkah aku memberikan hadiah kepadamu?, sesungguhnya Nabi saw. datang kepada kami, lalu kami bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tahu bagaimana cara kami mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimanakah cara kami mengucapkan sholawat kepadamu?”. beliau bersabda: “Maka ucapkanlah ” “Wahai Allah, berikanlah berkah dan rahmat kepada Muhammad saw. dan keluarga Muhammad saw. sebagaimana Engkau memberikan berkah dan rahmat kepada keluarga Ibrahim as., sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. Wahai Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad saw. dan keluarga Muhammad saw. sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada keluarga Ibrahim as., sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah” “.
Links:
[mengapa membaca shalawat ?]
http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/6846
- Perintah untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW memang perintah yang tegas dan jelas. Dan tidak ada kaitannya dengan selamat atau tidaknya yang kita doakan. Sebab Allah SWT telah menjadikan Rasulullah SAW sebagai orang pertama yang akan membuka pintu surga. Selain itu beliau adalah orang yang ma?shum atas izin Allah, yaitu orang yang tidak punya dosa seumur hidupnya. Maka bershalawat kepadanya adalah kewajiban umat Islam, bukan karena beliau tidak selamat, melainkan ucapan ibadah dan berdampak kepada pahala kepada yang membacanya.
[pakai sayyidina dalam shalawat, bagaimana hukumnya?]
http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/6411152408-pakai-sayyidina-dalam-shalawat-bagaimana-hukumnya.htm?other
- Mazhab As-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa shalawat kepada nabi dalam tasyahhud akhir hukumnya wajib. Sedangkan shalawat kepada keluarga beliau SAW hukumnya sunnah menurut As-Syafi`iyah dan hukumnya wajib menurut Al-Hanabilah. Sedangkan menurut Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah, membaca shalawat kepada nabi pada tasyahhud akhir hukumnya sunnah. Demikian juga dengan shalawat kepada keluarga beliau.
- Al-Hanafiyah dan As-Syafi`iyah menyunnahkan penggunaan kata [sayyidina] saat mengucapkan shalawat kepada nabi SAW (shalawat Ibrahimiyah). Meski tidak ada di dalam hadits yang menyebutkan hal itu.
- Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata,`Janganlah kamu memanggilku dengan sebuatan sayyidina di dalam shalat`, adalah hadits maudhu` (palsu) dan dusta.
- Perbedaan ini bukan perbedaan dari segi aqidah yang merusak iman, melainkan hanya masalah kecil, atau hanya berupa cabang-cabang agama. Tidak perlu kita sampai meneriakkan pendapat yang berbeda dengan pendapat kita sebagai tukang bid’ah.
[membaca shalawat tunjiat setiap malam juma’t]
http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/9568
- Selain di dalam shalat, shalawat kepada nabi dianjurkan untuk dibaca pada waktu-waktu tertentu. Misalnya pada hari Jumat atau malam Jumat, pada pagi dan sore hari, saat masuk masjid dan keluar, di depan makam / kuburan Rasulullah SAW, ketika menjawab azan, ketika beroda atau sesudah berdoa, ketika melakukan ibadah sa?i antara Shafa dan marwah, dalam pertemuan suatu kaum dan setelah selesainya pertemuan itu, ketika mendengar disebut nama Rasulullah SAW, ketika jeda antara bacaan talbiyah, ketika mengusap hajar aswad, ketika bangun dari tidur, ketika khatam Al-Quran Al-Kariem, dalam kondisi tertekan, ketika meminta ampunan, ketika menyampaikan ilmu kepada manusia, ketika menyampaikan pelajaran, ketika memberikan peringatan, ketika khutbah nikah, serta semua event yang termasuk zikirullah.
- Yang sering dipertentangkan adalah ketika melafazkan bacaan shalawat yang mengandung ungkapan bahwa shalawat itu adalah penyelamat dari semua bahaya dan halangan. ?Shalatan Tunjina Min Jami`il Ahwali Wal Aafaaat?. Padahal yang menjadi penyelamat dari semua bahaya dan halangan hanyalah Allah Subhanahu Wata`ala saja. Bukan shalawat itu sendiri.
[tasawuf dan shalawat Nabi]
http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=224
- Shalawat yang bertentangan dengan alQur’an: [1] Shalawat Nariyah. [2] Shalawat Al Faatih (Pembuka). [3] Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan). [4] Shalawat Burdatul Bushiri. [5] Nash shalawat seorang sufi Libanon.
[taRekat tijaniyah]
http://www.almanhaj.or.id/content/1404/slash/0
- Tarekat Tijaniyah, Syadziliyah, Qadariyah dan tarekat-tarekat lainnya yang diada-adakan oleh manusia, tidak boleh diikuti, kecuali yang sesuai dengan syari’at Allah.
- Shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi Saw sebagaimana , yang mereka klaimkan, hanya saja shighah lafazhnya tidak seperti yang diriwayatkan dari Nabi Saw, sebab dalam shalawat fatih itu mereka mengucapkan (Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada penghulu kami, Muhammad sang pembuka apa-apa yang tertutup, penutup apa-apa yang terdahulu dan pembela kebenaran dengan kebenaran). Lafazh ini tidak pernah menjadi jawaban mengenai cara bershalawat kepada beliau ketika ditanyakan oleh para sahabat. Adapun yang disyari’atkan bagi umat Islam adalah bershalawat kepada beliau dengan ungkapan yang telah disyari’atkan dan telah diajarkan kepada mereka tanpa harus mengada-adakan yang baru.
[shOlawat 2]
http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/4065
- Bentuk sholawat yang paling pendek adalah ucapan Shollallahu Alaihi Wasallam. atau juga Allohumma Sholli wa Sallam ?Alaih. Sedangkan cara lain bershalawat berdasarkan hadis adalah shalawat sebagaimana dalam shalat dan doa setelah mendengarkan adzan.
[syahadat/shalawat Nabi]
http://www.waspada.co.id/islam/artikel.php?article_id=46736
[mOdel shalawat yang dilaRang]
http://alatsar.wordpress.com/2007/06/04/model-shalawat-yang-dilarang/
- Bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama, karena hadits-hadits yang digunakan untuk menghalalkan tawasul serupa ini adalah merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu/Maudhu’).
[keutamaan membaca shalawat untuk nabi]
http://dida.vbaitullah.or.id/islam/buku/jalan-selamat/node37.html
- Shalawat-shalawat lain yang ada di dalam kitab-kitab hadits dan fiqih yang terpercaya, tidak ada yang menyebutkan kata “sayyidina” (penghulu kita), yang hal itu ditambahkan oleh kebanyakan manusia. Memang benar, bahwa Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç èÓäå Shallallaahu ‘alaihi wa Salam adalah penghulu kita, “sayyiduna”, tetapi berpegang teguh dengan sabda dan tuntunan Rasul adalah wajib. Dan, ibadah itu dilakukan berdasarkan keterangan nash syara’, tidak berdasarkan akal.
[hukum dan dalil-dalil shalawat]
http://suryaningsih.wordpress.com/2007/05/21/hukum-dan-dalil-dalil-shalawat/
- SHALAWAT bentuk jamak dari kata salla atau salat yang berarti: doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah. Arti bershalawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika shalawat itu datangnya dari Allah Swt. berarti memberi rahmat kepada makhluk. Shalawat dari malaikat berarti memberikan ampunan. Sedangkan shalawat dari orang-orang mukmin berarti suatu doa agar Allah Swt. memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya.
- Shalawat juga berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan shalawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah Swt., serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad Saw., bahwa orang yang bershalawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik shalawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).
[shalawat pada Nabi]
http://www.dzikrullah.com/bpm_23_shalawat.htm
- Surat Al Ahzab: 56, tentang shalawat kepada Nabi. Pada ayat tersebut terdapat kalimat bahwa Allah bershalawat kepada Nabi. Kemudian para malaikat, dan selanjutnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi. Arti shalawat adalah doa , memberi berkah, dan ibadat.
- Rasulullah tidak membutuhkan rahmat ataupun doa dari kita, akan tetapi justru Rasulullah yang akan memberikan pertolongan nanti dihari kiyamat apabila kita sering memberikan salam atau shalawat penghormatan kepada beliau. Dan Allah juga memberikan shalawat kepada orang yang bershalawat kepada Rasulullah.
[kenapa Rasulullah perlu didOakan/shalawat?]
http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/4430a0d7.htm
- Dalam ilmu tafsir, yang disebut dengan ‘bershalawat’ itu maknanya banyak, tidak terbatas kepada doa semata. Karena itu di dalam Al-Quran Al-Karim (QS. Al-Ahzab: 56) kita menemukan adanya ayat yang menceritakan bahwa Allah SWT dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi SAW. Dan untuk itu umatnya pun diperintahkan untuk bershalawat kepada beliau juga.
- Saling mendoakan satu sama lain adalah hal yang biasa dan telah menjadi syiar agama. Termasuk memberi salam kepada Rasulullah SAW dan bershalawat kepadanya. Kalau kita mendoakan keselamatan dan kepada seseorang bukan berarti kita meyakjini bahwa dirinya ada dalam ketidak-selamatan. Doa keselamatan itu sama saja bila kita menyapa teman dengan mengatakan semoga Anda sekeluarga dalam keadaan sehat wal afiat. Apakah bila kita menyapa demikian berarti teman kita itu sekeluarga sedang dirawat di rumah sakit?
[sunnah-sunnah dalam adzan dan iqOmah]
http://www.almanhaj.or.id/content/1488/slash/0
- Sunnah-sunnah yang berkaitan dengan adzan ada lima: [1]. Sunnah Bagi Orang Yang Mendengar Adzan Untuk Menirukan Apa Yang Diucapkan Muadzin Kecuali Dalam lLfadz. [2]. Setelah Muadzin Selesai Mengumandangnkan Adzan, Maka Yang Mendengarnya Mengucapkan .. [3]. Membaca Shalawat Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa salam setelah selesai menjawab adzan dari muadzin dan menyempurnakan shalawatnya dengan membaca shalawat Ibrahimiyyah dan tidak ada shalawat yang lebih lengkap dari shalawat tersebut. [4]. Mengucapkan Doa Adzan Setelah Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [5]. Berdoa Untuk Dirinya Sendiri, Dan Meminta Karunia Allah Karena Allah Pasti Mengabulkan Permintaannya.
[cintaku padamu ya Rasulullah]
http://www.eramuslim.com/atk/oim/4405718b.htm
- Nabi Muhammad saw. adalah sosok yang (wajib) diagungkan dan dicintai lebih dari makhluk-Nya yang lain oleh setiap diri yang mengaku muslim.
- Kita perlu mengenal lebih jauh adab (kewajiban) apa saja bagi seorang muslim sebagai wujud rasa cinta yang mendalam kepada beliau. Mengapa? Supaya kita termasuk golongan yang benar-benar mengikuti beliau.
- Menokohkan Rasulullah bukan sekedar mengidolakan dan memajang kaligrafi namanya pada dinding rumah, tapi juga mencontoh, mengikuti jejak, dan meniru langkahnya, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia.
-perbanyakamalmenujusurga-
| shOlawat - HOTD.do… |
| buka folder HOTDfiles |
Juli 3rd, 2007 at 10:54 am
Sholawat Nariyah emang katanya sesat. Tapi herannya orang2 dikasih dalil, tapi gak mau denger. Mereka lebih mementingkan tradisi.
::oRiDo::
iya..
emang susah klo udh berhadapan sama orang yg kolot, ter-kotak-an, ato apalah namanya..
tapi walo demikian…
jangan pernah berhenti.. seengga nya, kita usaha dengan berdoa meminta pada Allah swt..
semoga kita semua selalu di tunjukkan jalan yang benar dan sesuai dengan agama islam..
Juli 4th, 2007 at 10:58 pm
suka terlupakan, jarang sekali diucapkan…bahkan yang hukumnya wajibpun juga
::oRiDo::
mari kita sama2 memperbaiki amal ibadah kita..
mulai lah dari yg kecil
tetapi hati2 juga dengan dari yg kecil itu… gak kerasa tau2 banyak.. menambah berat pada saat penimbangan amal nanti…
Juli 5th, 2007 at 1:43 pm
euh… model agama nenek moyang teh masih berlaku ajah yah?…
hanya sajah berubah bentuk… biar yang sesat juga kalau sudah turun temurun mah dianggap benar… padahal dalilnyah sudah jelas…
::oRiDo::
itu lah susahnya..
udah salah ngerasa benar…
namanya juga hidup.. bukan hidup *didunia* klo gak ada perjuangannya..
Juli 5th, 2007 at 10:41 pm
maksudnya gimana nih mas? kok belum paham, hehehe
Juli 10th, 2007 at 1:21 pm
nuhun kang orid
::oRiDo::
sawangsul na Rus..
Nopember 14th, 2008 at 10:04 pm
Hallo,
Buat saudara-saudara yg selalu mengaku ahlus-sunnah dan memandang segala sesuatu bid’ah, saya punya sedikit cerita untuk anda renungkan.
Kalau kita baca sejarah sebagian bangsa-bangsa Afrika, terutama dimana penduduknya mayoritas Islam, kita akan mengetahui bahwa perlawanan & pemberontakan rakyat Afrika thd penjajah selalu digerakkan oleh kaum sufiyah, dalam hal ini tarekat, tidak terkecuali Tijaniyah. Kalau kita MAU mencari tahu tokoh-tokoh Islam Indonesia yang terlibat dalam pergerakan kemerdekaan kita akan terperangah, bahwa sebagian besar dari mereka adalah penganut Tijaniyah. Bisa saya sebutkan beberapa di antara mereka: Presiden Soekarno, pendiri NU - KH. Hasyim Asy,ari, pendiri Muhammadiyah- KH. Ahmad Dahlan, HOS. Cokroaminoto, dll. Di zaman sekarang adalah yang memegang kendali RI - Presiden SBY. Beberapa Jenderal Islam & mantan jendral RI juga pengikut Tijani. Bila anda kurang percaya, tanyakan langsung kepada yg bersangkutan (he..he..he..), minimalnya kepada keturunannya (itupun kalau para anak cucunya tahu).
Kita semua yakin dan harus mempunyai dasar/pondasi IMAN yang kuat. Iman itu ternyata ditunjukkan secara sungguh-sungguh oleh kaum di PERSATUAN ISLAM. Saya sangat gembira melihat perjuangan PERSIS dkk. yg ghirahnya tinggi dalam mendakwahi umat secara lisan & tulisan. Tetapi sayang, dari dulu sampai sekarang IMAN yg dibangun hanya sampai IMAN yg dasar/pondasi saja, tdk sampai naik level ke atas, seperti membangun sebuah bangunan dari pondasi yg kuat terus berdiri tembok dan naik atap genting. Tapi saya kira itu sudah mencukupi, IMAN yg kuat hanya sampai tingkat dasar/pondasi, karena Alloh SWT tdk akan menghisab melebihi kemampuan manusia.
Adapun sebagian umat Islam yg lain yg diberi kemampuan utk membangun IMAN ke tingkat lebih atas, yaitu IMAN yg tidak bisa dibatasi oleh lisan & tulisan. Karena kemampuan lisan & tulisan (OTAK) terbatas, sejauh dan dalamnya lisan & tulisan tidak akan melebihi jauhnya/dalamnya huruf A sampai Z atau huruf Alif sampai Yaa’, dan itulah isi dari dasar/pondasi IMAN. Seluruh A-Z dan Alif-Yaa’ bisa dihimpun di otak jasmani yg terbatas. Tapi kita lupa bahwa kita dianugrahi RUH yg tingkat IMAN nya berbeda dg IMAN yg dasar tadi. Mana di antara kita yg benar? Saya yakin kedu-dua pihak yg berselisih benar, tapi satu pihak tidak menyadari bahwa pihak yg lain mempunyai kemampuan lebih untuk mengembangkan IMAN nya secara RUHani. Akibatnya pihak yg merasa bahwa ISLAM/IMAN yg benar hanyalah yg terhimpun dalam OTAK yg berisi lisan & tulisan A-Z dan Alif_Yaa’ akan mengklaim bahwa ISLAM/IMAN yg keluar dari OTAK adalah salah dan mengada-ada. Padahal sebenarnya mereka hanya ingin naik tingkat berpindah ke ISLAM/IMAN secara RUHani, mungkin mereka bosan kali ber IMAN/ISLAM secara OTAK (he..he..he..) jadi pingin naik kelas, bosan di tempat yg lama. Kita juga tidak perlu menyalahkan saudara2 kita dari PERSIS dkk, mereka dibutuhkan untuk mendakwahi umat yg masih awam dan para muallaf mengajarkan ilmu SYARIAT. Tapi, bila mereka pingin naik kelas, ber IMAN tingkat RUHani, silakan datang ke guru yg punya ilmu keRUHanian (guru tarekat). Perlu saudara2 ketahui, berdebat dan berselisih itu capeeek man! kayak anak kecil dan seperti edan eling bahwa OTAK kita terbatas sekali. Hanya RUHani yg mampu melahap ilmu-ilmu yg lebih tinggi.
Oh ya, sekedar informasi saja, kalau tidak salah tarjih majelis Muhammadiyah yg sekarang sudah membolehkan QUNUT. Apa benar, ya? Mungkin saudara-saudara dapat membantu saya ttg kebenarannya. Dan tolong deh, jangan campur adukkan ibadah yg MAHDOH dengan yg ghair mahdoh, OKEE? Khawatir nantinya yg ghair mahdoh dianggap WAJIB hukumnya. Khan payah jadinya, bukan? Jadi dakwahnya isinya campur aduk. Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Selama 11 tahun aku menelaah satu ayat ini, belum juga kutemukan makna dan kandungannya”. Untuk berijtihad diperlukan ALAT. Alatnya ada 9 ilmu. Lha, saudara2 pernah berusaha berijtihad perlu berapa lama? sejam, sehari, sebulan, setahun? waduh, terlalu singkat, mana orang percaya gaya ijtihad seperti itu. Orang sekarang baru fresh/segar keluar dari kuliah sudah berani berijtihad. Laksana orang cari kerja, hanya orang yg mempunyai pengalaman yg diterima. Makin lama pengalaman makin bagus. Beri saya kepercayaan, bagaimana saya bisa percaya kepada orang-orang seperti itu?
Ibadah itu sudah jelas, terkandung dalam 2 Rukun; Rukun Iman & Rukun Islam, ndak usah ditambah-tambahi. Yang membuat kita berselisih dari dulu sampai sekarang, dan saya yakin juga sampai nanti……hari kiamat tiba, adalah mencampur aduk antara yg Mahdoh dgn yg ghair Mahdoh. Ibadah Mahdoh sudah jelas’ ada pada Rukun Iman & Rukun Islam. Yang ghair mahdoh…lebih banyak urusannya dengan masalah duniawi; seperti bagaimana cara membuat supaya dagangan toko saya laku dari segi interior toko sampai ke interior spiritual. Bagaimana cara membuat tameng supaya tidak tembus anak panah dan peluru; maka saya buat tameng dari benda jasmani (terbuat dari besi atau kayu??) dan tameng spritual yg terbuat dari untaian-untaian ucapan kalimat. Jangan bingung berpikirnya. Sederhana and simple….supaya mudah pakai ilustrasi, contoh-contoh. Nah, itu baru namanya logika kita jalan!
Segudang ilmu terdapat di dalam tarekat Tijani, baik ilmu keakhiratan, ilmu dunia (rezeki, kewibawaan, dll), ilmu tentang perang , pengobatan dll. Ilmu-ilmu tentang keduniawian dihimpun dalam 40 kitab, yang setiap kitabnya memuat/mengajarkan 50 ilmu. Jadi ilmu-ilmu keduniawian ada sekitar 2000 ilmu. Seluruh kitab-kitab Tijaniyah yang diwariskan oleh Asy-Syaikh Al-Mukarrom Ahmad At-Tijani sejak lk 2 abad yg lalu tetap terpelihara terdapat di majelis Bogor, dalam genggaman Asy-Syaikh Hadji Muhammad Syu’aib. Bila saudara hendak mengetahui seluruh kitab-kitab ukhrowi & dunya Tijaniyah, silakan datang ke majelis Bogor. DAN, bila saudara hendak mencari seorang Syaikh Tijani yang menggenggam seluruh ilmu hikmah, silakan datang ke majelis Bogor dan belajarlah tarekat secara BENAR dan ADAB.
Assalamualaikum,
didik
tijani121@gmail.com